Senin, 14 Mei 2012

kisah islami 2

MEMBACA ALQUR’AN SAAT
SEKARAT

PADA SUATU HARI  seorang lelaki paruh baya melaju di jalanan dengan mobilnya. Di perjalanan, ketika ia berada di dekat salah satu terowongan pusat kota, mobilnya mendadak mati. Ia pun segera turun dan memeriksa mobilny.
Setelah di periksa, ternyata salah satu ban sebelah kanan mobilnya bocor. Ia lalu pergi kebelakang mobil untuk menurunkan ban serep yang baru. Belum selesai ia melepas  ban serep yang berada di belakang mobilnya, dari arah bealakang meluncur sebuah truk dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali.
Entah karena mengantuk atau mabuk mobil truk itu dengan keras menghantam mobilnya.
“Braaaaaaaaakkkk!!”
Mobil tiu menabraknya dari belakang. Ia terpelanting jauh ke seberang jalan. Kepalanya membentur tiang di pinggir jalan. Darah merah segar menetes dari dahi, kepala, dan beberapa anggota tubuh lainnya. Akibat benturan itu, ia mengalami luka yang sangat serius sekali.
Salah seorang saksi yang saat itu ada di lokasi tabrakan, segera menolong lelaki paruh baya itu. Ketika tubuhnya di angkat ia tergolek lunglai tak berdaya di pinggir jalan. Dengan penuh kecemasan dan kekhawatiran salah seorang saksi mata dan orang-orang yang berada disana langsung mengevakuasi korban dengan menggunakan mobil umum.
Mereka lalu menelepon rumah sakit terdekat agar segera mempersiapkan perawatan di UGD bagi korban yang kini tengah sekarat itu. Di dalam mobil itu para saksi memandang wajah lelaki bersahaja yang kini lunglai bersimbah darah di hadapan mereka.
Laki-laki itu terlihat tersenyum simpul di tengah kondisi tubuhnya yang sedang kritis. Dahinya yang putih bersih memantul pada rambutnya yang hitam lebat. Terlihat janggut sedikit tebal namun tersisir dengan rapih menghiasi dagunya yang tampak seperti telur di belah dua. Ada lembah kecil pemisah antara dua sisi dagunya itu. Ia begitu tampan dan bersahaja. Mungkin ia seorang yang taat beragama, tebak saksi yang lain.
Tadi , saat kami membopong nya ke dalam mobil, terlihat mulutnya komat-kamit. Ia seperti ingin melafalkan kata-kata. Namun kami tidak begitu peduli. Yang kami utamakan saat itubagaimana membawa korban cepat-cepat menuju Rumah Sakit terdekat. Kami akhir nya berhasil mencegat sebuah mobil umum yang lewat dan kebetulan kosong.
‘ke Rumah Sakit Raja Fahd , Pak!” kata salah seorang dari mereka.
Kami merasa panik, tidak ada yang bisa kami lakukan selain membopong korban dan mengelap sisa-sisa darah yang terus mengalir deras dari dahi dan kepalanya. Kami terus saja menyaksikan mulut korban seperti komat-kamit mengutarakan suatu lafal yang tidak jelas. Sungguh kami tidak bisa menerka apa sebetulnya yang tengah dan ingin di ucapkan laki-laki paruh baya itu.
Salah seorang dari kami pun mencoba mendekatkan diri pada mulutnya. Subhanallah ! ternyata laki-laki itu tengah melantunkan ayat-ayat Al-Qur’ân dengan suara yang tetap terdengar lembut dan indah. Setiap kami pun akhirnya bergantian mendengarkannya. Ya, kami semua yakin bahwa laki-laki itu memang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’ân yang memang tidak asing bagi kami.
Agaknya perkiraan kami tidak meleset. Orang ini memang orang yang taat beragama. Betapa ketika darah bercucuran ke seluruh bajunya, kala tulang-tulang tubuhnya banyak yang meremuk, ternyata dari mulutya bukan mengeluarkan kata-kata mengaduh kesakitan. Bahkan kini ia bukan lagi seperti orang yang sakit tetapi justru tengah sekarat, menjemput  ajalnya! Aneh nya yang terlantur justru ayat-ayat suci Al-Qur’an yang membuat bulu kuduk kami semuanya bergidik. Netapa saleh nya orang ini, piker kami.
Ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan suara lembut nan indah. Rasanya saya belum ernah mendengar lantunan seindah dan selembut orang ini selama hidupku. Seluruh tubuh k mendadak gemetar. Keringat dingin mulai keluar dari dahiku.aku merasa bahwa yang tengah aku saksikan bukanlah kejadian yang biasa. Tetapi sangat luar biasa !.
Tiba-tiba di tengah perjalanan lantunan ayat-ayat suci itu kian nyaring terdengar, mendadak suara itu terdiam. Lelaki itu menarik nafas pajang dan meengadahkan kepalanya ke belakang.
Matanya mendelik ke atas dengan nafas sedikit tertahan. Yang membuat kami semakin takjub , lelaki itu berisyarat dengan telunjuknya ke atas langit  seraya mengucapkan dua kalimah syahadat begitu lancarnya.
Tak lama setelah itu kepala laki-aki itu terkulai lemas ke belakang. Tangannya meregang sebentar  dan terjatuh sendiri ke samping tubuhnya. Nadinya terhenti. Jantungnya pun tidak berdegup lagi. Begitu pula nafasnya mendadak reda. Tidak ada getaran dan gerakan lagi. Gerakan kecil sekalipun. Ya, lelaki itu telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.
     Aku tertegun lama menyaksikan  pemandangan haru sekaligus menakjubkan itu. Begitu indahnya orang tersebut menyambut kematian yang bagi banyak orang sangat mengerikan. Tak terasa air mataku mulai menetes satu persatu di pipiku. Demikian  juga kawan-kawan yang saat itu bersamaku. Semuaya larut dalam tangis.
Padahal, kami semuanya saat itu baru saja ketemu dengan orang tersebut. Kami pun bukanlah kawan yang di kenal baik oleh korban demikian sebaliknya. Begitu juga dengan kawan-kawan yang lain. Namun pertemuan iti membuat kenangan indah yang menjadi pelajaran penting seumur hidupku.
Aku kemudian memberitahukan kawanku bahwa laki-laki itu telah meninggal dunia. Mereka sebenarnya tahu , tetapi aku ingin menguatkan kabar itu sebagai tanda masih kurang percaya pada yang kami lihat saat itu. Aku bahkan sampai menangis sesenggukan menyaksikan lelaki malang itu. Air mataku hamper tidak bisa berhenti. Pemandangan dalam mobil umum saat itu begitu haru dan menyedihkan.
Kami pun tiba di rumah sakit . sesampainya disana kami bukannya sibuk mengurus jenazahnya, namun terlebih dahulu larut menceritakan apa yang kami alami kepada orang-orang di rumah sakit. Mereka sangat terkagum-kagum dengan kisah lelaki itu.sekalipun mereka idak menyaksikan langsung apa yang terjadi, namun mendengar kisah kami, air mata mereka pun langsung menetes. Mereka juga menangis tersedu-sedu seperti halnya kami. Bahkan mereka saling berhamburan menghampiri jenazah lelaki itu dan berebut saling menciumi  dahinya. Dalam pengamatan kami dari jauh, laki-laki itu seolah saudara yang sangat dekat dan kenal dengan baik dengan setiap orang tiu. Berbahagialah wahai anak muda, anda bukan saja kelak di saangi semua yang ada di langit. Yang ada di bumi pun kini berebut ingin menyayangi anda !.
Tidak sampai disana, merekapun lalu berebut mengurusi jenazah lelaki itu dan menyolatkannya. Masjid rumah sakit yang memang besar, saat itu penuh dengan orang yang menyolatkan sekalipun keluarganya belum muncul juga. Setelah prosesi pengurusan beres, pengurus rumah sakit lalu menghubungi keluarga korban. Tak lama kemudian datanglah rombongan keluarganya ke rumah sakit. Acara takziyah selesai. Belum juga jenazah di kuburkan, orang-orang kemudian berebut bertanya kepada keluarganya tentang kehdupan laki-laki itu dengan terlebih dahulu menceritakan keajaiban yang mereka saksikan di akhir hayat nya saat ia menjemput kematian. Salah seorang dari keluarga korban berdiri di depan orang-orang yang berada di dalam masjid rumsh sakit saat itu dan ia mulai mengisahkannya.
”Nama saudara kami ini, Ahmad. Setiap hari senin, memeang dia slalu berziarah kerumah neneknya yang kini hidup sendirian di desa. Di desa itu juga ia mengurus banyak janda, anak yatim, dan orang-orang miskin. Semua orang di desa mengenal dirinya dirinya dengan baik. Karena Ahmad selalu datang kepada mereka dengan membawakan buku-buku bahan bacaan, kaset-kaset ceramah, dan juga membagi-bagikan Al-Qur’an.”
Sampai disni banyak diantara kami yang mendengarkan di masjid itu menangis haru. Setiap kami menetekan air mata mengiringi setiap untaian kisah yang tengah di paparkan saudara Ahmad itu. Suasana begitu sepi, hening , dan tak terdengar suara apapun selain isak tangis tertahan, napas tersendat, dan suara-suara mulut yang diredam. Kami semua begitu khidmat mendengarkan dan menikmati cerita lelaki saleh itu.
Saudara Ahmad lalu melanjutkan kisahnya.
“Ahmad pergi setiap hari senin dengan membawa kendaraanya sendiri. Di bak belakang mobilnya ia membawa makanan pokok. Mulai dari beras, gula , minyak yang sengaja ia bawa untuk di bagi-bagikan kepada mereka yang membutuhkannya di desa itu. Tidak hanya itu,” ujarnya terdiam sejenak.
Kami terus memandangi saudara Ahmad itu dengan sedikit menahan nafas. Kami rasanya tak ingin melewatkan setiap detik dari kisah lelaki itu. Maka kami berebut tertuju pada si pembicara di depan masjid yang kini berdiri di atas mimbar. Mulut kami meenganga. Mungkin saking penasaran apa sebetulnya yang ingin diungkapkan saudara Ahmad itu pada kami.
Saudara Ahmad itu melanjutkan.
“ Ia juga tak lupa selalu membawakan permen dan mainan untuk bocah-bocah kecil di desa itu. Setiap kali Ahmad tiba di desa itu, puluhan bocah kecil akan menyambut ramai. Ahmad bagi mereka seoalah menjadi ayah kedua yang senantiasa memperhatkan mereka. Ahmad tidak hanya bermain dengan bocah-bocah itu sehingga tak sulit bagi Ahmad saat mengajak bocah-bocah itu belajar  wudhu, shalat, dan membaca Al-Qur’an….”
Kisah saudara Ahmad mendadak terpotong karena salah seorang kami tiba-tiba ada yang menyela,
“saudaraku , apa kira-kira kelebihan prilaku Ahmad selama ini?” tegasnya penuh penasaran.
“saudara-saudaraku sekalaian, Ahmad itu selalu menolak pujian orang lain. Sepanjang jalan ketika berkendaraan ia tidak selalu lupa berdzikir. Ia selalu menghapal Al-Qur’an dan mengulang-ulangnya. Istirahatnya adalah mendengarkan kaset-kaset ngaji maupun ceramah para ustad dan syaikh.”
Demikian cerita keluarga Ahmad seputar perilaku kehidupan sebelum ia kemudian menemui ajal indahnya. Aku dan para pendengar  yang lain yang ada di masjid itu benar-benar mengambil pelajaran penting dari setiap untaian kisah Ahmad yang saleh.
Riuh rendah masjid itu oleh banyak pelayat. Mereka bergantian menyalatkan dan mendoakan Ahmad. Mereka juga kini berebut menciumi keningnya yang kini telah terbungkus kain kafan. Setelah shalat  jenazah , kami lalu mengantarkan Ahmad bersama keluarganya ke pemakaman. Kami pun lalu menanamnya di lubang sempit kuburannya. Setelah di tancapkan patok pada lubang itu, kami lantas menimbunnya dengan tanah.
Ahmad kini tengah menjalani hari pertamanya dengan penuh kebahagiaan. Ia akan bertemu dengan kekasih-Nya yang selama ini ia rindukan. Hari pertama di kuburan sempit itu Ahmad mungkin tengah berada di istana luas membentang dan di temani banyak bidadari cantik jelita.
Selamat jalan Ahmad! Begitu banyak pelajaran yang bisa kami petik dari kisah hidupmu! Percayalah, kamu telah mencapai kematian para syuhada, menjadi penyaksi atas kebenaran yang kamu anut. Demikian juga , mudah-mudahan kami. “amin allahumma amiin”   

Diambil dari kisah nyata dalam buku “300 km menuju jahanam”
Yang di tulis oleh
Ahmad Salim Badwilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar